Jogja
Typography

Ayam tidak sekadar jadi binatang perlambang yang sering dilibatkan dalam banyak upacara Jawa lho. Ayam, bagi masyarakat Jawa, khususnya Jogja, juga jadi penanda gejala alam. Masyarakat Jogja zaman dulu mempercayakan nasib jemuran pakaian dan hasil berkebun pada ayam. Mereka akan mengamati perilaku ayam saat hujan mulai turun.

Ketika turun hujan dan ayam berteduh diartikan hujannya sebentar saja. Sebab setelah hujan reda Ayam akan kembali mencari makanan. Sebaliknya, kalau hujan datang lalu Si Ayam nekat hujan-hujanan cari makan cari cadangan makanan karena hujan lama. Ini terekam dalam banyak cerita turun menurun seperti yang dikisahkan Sidik Jatmika dalam Telaah Folklor Jogja.

Kepercayaan ini mulai Badan Meterologi dan Geofisika datang lalu melakukan prakiraan cuaca dengan peralatan canggihnya. Si Ayam pun mulai kehilangan tempat dalam prakiraan cuaca lantaran informasinya menyebar di banyak media mainstream.

Ikan Lele juga sudah mulai kehilangan tempat. Masyarakat yang memelihara Ikan Lele di tambak-tambak akan langsung siaga di luar rumah ketika melihat lele mengamuk. Mereka percaya bahwa mengamuknya lele adalah tanda akan terjadinya pralaya alias gempa besar. Namun perlahan kepercayaan turun temurun itu mulai punah setelah diacak-acak seismograf.

 

Sumber : Berita Jogja ID