Semarang
Typography

Universitas Diponegoro kembali mengukuhkan satu guru besar baru dari Fakultas Teknik. Rabu, (12/7) Prof. Dr. Ir. Han Ay Lie, M.Eng mendapat gelar akademik tertinggi sebagai guru besar di Balai Diponegoro Makodam Diponegoro, Semarang.

Dalam pidato pengukuhannya sebagai gubes, Han Ay Lie atau yang akrab disapa Ayke mengangkat topik “ Menuju Efisiensi Penggunaan Semen dan Konservasi Lingkungan Melalui Inovasi Beton Bergradasi”.

Menurut Prof. Ayke, beton bergradasi adalah sebuah inovasi untuk mengurangi kebutuhan semen pada sebuah elemen beton, sesuai dengan fungsinya.Konsep beton bergradasi adalah untuk menghasilkan beton yang kuat di daerah yang membutuhkan beton dengan kekuatan tinggi, tetapi membuat beton bermutu lebih rendah di daerah yang tidak membutuhkan beton yang kuat.

Komponen beton yang mengakibatkan pencemaran lingkungan adalah semen. Semen tersebut dalam proses produksi menghasilkan gas CO2 yang mengakibatkan greenhouse effect, serta debu dan gangguan suara dan getaran akibat mesin produksi. Mutu beton bergantung kadar semen yang digunakan pada saat pembuatan. Agar kebutuhan semen dapat dikurangi maka sebuah balok beton dibuat berlapis-lapis dengan kekuatan yang berbeda-beda. Daerah yang membutuhkan kekuatan kecil, dapat memanfaatkan kebutuhan kadar semen yang lebih rendah.

Lebih lanjut, Prof. Ayke menuturkan bahwa riset unggulan ini merupakan kerjasama antara univeritas-universitas di Indonesia: UNDIP Semarang dan UNS Surakarta dengan Nihon University di Koriyama, Jepang. Riset ini mengembangkan metoda pembuatan beton bergradasi yang menghasilkan peralihan halus antara beberapa lapisan kekuatan beton. Penelitian ini disertai dengan uji validasi untuk mengetahui apakah benar-benar beton tersebut bergradasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan beton bergradasi, kita dapat menghemat sampai 23% berat semen. Setiap produksi satu kilogram semen menghasilkan 0,60 ⸞ 0,77 kg gas CO2. Tahun 2016 produksi semen sebesar 75,3 juta ton, dengan demikian penggunaan beton bergradasi akan dapat menurunkan emisi gas sebesar 12 juta ton dalam satu tahun saja. Adapun penghematan biaya bisa mencapai Rp 22,5 milyar.

“ Kedepan penelitian ini akan lebih bermanfaat apabila dikembangkan kearah beton Geopolymer. Beton Geopolymer tidak menggunakan semen sama sekali, sebagai pengganti semen digunakan bahan perekat yaitu fly ash yang merupakan limbah batubara. Dengan demikian akan terjadi manfaat ganda, di satu sisi pemanfaatan limbah batu bara (fly ash) sebagai pengganti semen dan di sisi lain akan terjadi optimasi dengan perencanaan beton bergradasi (Functionally Graded Concrete).” tutur Prof. Ayke.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama dalam sambutanya merasa bangga atas bertambahnya guru besar Prof. Han Ay Lie di Undip.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama menjelaskan bahwa dengan bertambahnya guru besar tersebut, Undip akan menjadi semakin hebat dalam membuktikan kualitasnya.

“Sosok guru besar adalah pangkat tertinggi dalam pendidikan yang telah teruji dan diakui oleh pemerintah, maka dari itu harus dijaga entitasnya,” tutur Rektor.

Rektor mengatakan penambahan guru besar tersebut tidak hanya menambah struktural kepegawaian tetapi juga bukti kualitas Undip dalam mencetak guru besar.

Rektor berharap dengan bertambahnya guru besar tersebut dapat memacu rekan-rekan yang lain untuk menjadi guru besar juga dan dapat menjadikan Undip sebagai peguruan tinggi negeri yang kuat serta dikenal di kancah internasional.

 

Sumber : Humas Undip